Gue masih inget banget waktu pertama kali masuk kuliah hukum. Dosen gue bilang, "Hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas." Satu kalimat yang sederhana, tapi ngena banget. Waktu itu gue cuma ketawa kecil, mikir itu cuma guyonan anak hukum yang udah bosan sama teori. Ternyata, makin ke sini, makin gue sadar kalau kalimat itu bukan sekadar lelucon.
Hukum di Indonesia itu punya wajah yang menarik untuk dibahas. Di satu sisi, kita punya produk hukum yang lumayan lengkap. KUHP ada, KUHAP ada, belum lagi ratusan undang-undang lain yang ngatur hampir semua aspek kehidupan. Tapi di sisi lain, penerapannya sering bikin kita bertanya-tanya: sebenarnya hukum ini dibuat untuk siapa?
Antara Teori di Kampus dan Kenyataan di Lapangan
Waktu masih mahasiswa, gue diajarin bahwa hukum itu harus adil, pasti, dan bermanfaat. Tiga tujuan hukum yang klasik banget. Di kelas, semuanya terasa rapi. Ada kasus, ada pasal yang relevan, ada putusan yang logis. Selesai. Tinggal hafalin untuk ujian.
Tapi begitu gue mulai terjun ke dunia nyata — baca putusan pengadilan, ngobrol sama praktisi, dan ngikutin berbagai kasus yang viral — semuanya jadi jauh lebih berantakan. Ternyata, pasal yang sama bisa ditafsirkan berbeda oleh hakim yang berbeda. Fakta yang sama bisa dibacakan dengan cara yang sepenuhnya berlawanan oleh jaksa dan pengacara. Dan yang paling bikin pusing: dua kasus yang mirip bisa berujung pada vonis yang jaraknya jauh banget.
Gue pernah ngobrol sama seorang advokat senior di sebuah warung kopi di Jakarta. Dia bilang gini, "Nak, di kampus kamu belajar hukum yang seharusnya. Di sini, kamu belajar hukum yang apa adanya." Kalimat itu nempel banget di kepala gue sampai sekarang.
Kenapa Putusan Bisa Jauh Berbeda untuk Kasus Serupa?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul di kolom komentar setiap kali ada kasus hukum yang viral. Masyarakat awam bingung: kok bisa si A yang nyolong sandal dapat hukuman lebih berat dari si B yang korupsi miliaran?
Jawabannya nggak sesederhana "hakimnya nggak adil" atau "hukumnya bisa dibeli." Ada banyak faktor yang main di sini. Mari kita bedah satu-satu.
1. Kualitas Pembuktian Itu Segalanya
Dalam sistem peradilan pidana kita, yang namanya bukti itu raja. Sehebat apapun seorang jaksa menyusun dakwaan, kalau alat buktinya lemah, ya susah. Ini yang sering nggak dipahami publik. Kita cuma lihat beritanya di media sosial, langsung menghakimi. Padahal, apa yang kita tahu belum tentu sama dengan apa yang terungkap di persidangan.
Gue pernah ngikutin satu kasus korupsi yang menurut gue cukup jelas secara logika. Tapi di persidangan, saksi-saksinya berbelit, dokumen-dokumennya nggak lengkap, dan akhirnya terdakwa divonis bebas. Frustrasi? Iya. Tapi memang begitulah cara kerja sistem kita. Hakim nggak bisa memutus berdasarkan feeling atau tekanan publik. Mereka harus berpegang pada bukti yang ada di meja persidangan.
2. Kualitas Sumber Daya Manusia
Ini yang jarang dibahas. Kita punya ribuan hakim, jaksa, dan penyidik di seluruh Indonesia. Tapi kualitasnya... ya namanya juga manusia, nggak semuanya sama. Ada yang sangat kompeten, ada juga yang... ya gitu deh.
Bayangin aja, seorang penyidik di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas harus menangani kasus kompleks yang butuh keahlian forensik digital. Sementara di kota besar, penyidik dengan pelatihan lengkap dan peralatan canggih bisa menangani kasus serupa dengan jauh lebih efektif. Kesenjangan ini nyata dan berdampak langsung pada hasil akhir.
Keadilan yang tertunda adalah keadilan yang ditolak. Tapi keadilan yang dipaksakan tanpa proses yang benar juga bukan keadilan namanya.
Peran Media Sosial: Pedang Bermata Dua
Sekarang ini, hampir semua kasus hukum yang menarik perhatian publik akan jadi trending topic di media sosial. Ini sebenarnya bagus. Artinya, masyarakat makin peduli dan makin vokal. Tapi ada sisi gelapnya juga.
Tekanan publik bisa jadi bumerang. Hakim yang seharusnya memutus berdasarkan fakta dan hukum, bisa jadi terpengaruh — sadar atau nggak — oleh opini massa. Belum lagi kalau narasi yang beredar di media sosial ternyata nggak sesuai fakta. Kita sering banget lihat kasus di mana publik sudah "memvonis" seseorang bersalah, padahal proses hukumnya belum selesai.
Gue bukan bilang kita harus diam dan percaya buta pada sistem. Justru sebaliknya. Kita harus kritis, kita harus mengawasi. Tapi kita juga harus fair. Jangan sampai kita jadi hakim yang memutus berdasarkan potongan video 30 detik atau utas Twitter yang belum tentu benar.
Jadi, Harus Gimana?
Gue nggak punya jawaban ajaib untuk semua masalah ini. Kalau ada yang bilang punya solusi instan untuk memperbaiki sistem hukum Indonesia, gue curiga orang itu lagi jualan sesuatu.
Tapi setidaknya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa. Pertama, didik diri sendiri. Jangan cuma ikut-ikutan marah di kolom komentar tanpa memahami duduk perkaranya. Baca putusan lengkapnya kalau bisa — banyak kok yang sekarang diakses publik. Kedua, dukung reformasi di tubuh penegak hukum. Mulai dari gaji yang layak sampai pelatihan yang berkelanjutan. Ketiga, jangan lelah mengawasi. Demokrasi dan penegakan hukum yang sehat butuh partisipasi aktif dari warganya.
Hukum itu bukan cuma milik hakim, jaksa, dan polisi. Hukum itu milik kita semua. Dan selama kita masih peduli, masih mau belajar, dan masih mau bersuara dengan cara yang benar, gue yakin sistem ini masih bisa diperbaiki. Pelan-pelan, mungkin. Tapi arahnya bisa ke sana.
Yang jelas, gue nggak akan berhenti nulis tentang ini. Karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?